idul adha

Penting ! 3 Makna Idul Adha

Sejarah Idul Adha

Idul Adha pada tiap tanggal 10 Dzulhijjah dikenal juga dengan sebuatan “Hari Raya Haji”, di mana golongan muslimin yang menjalankan haji yang khusus, yakni wukuf di Arafah.

Mereka menggunakan baju serba putih dan tidak berjahit, yang disebut baju ihram, menyimbolkan kesamaan akidah dan penglihatan hidup, memiliki aturan nilai yakni nilai kesamaan dalam semua sisi sektor kehidupan.

Tidak bisa diperbedakan di antara mereka, semua berasa sederajat. Sama dekatkan diri pada Allah Yang Maha Gagah, sekalian bersama membaca kalimat talbiyah.

Selain Idul Adha diberi nama hari raya haji, diberi nama “Idul Qurban”, karena di hari itu Allah memberikan peluang ke kita agar semakin mendekatkan kepada-Nya.

Untuk kaum muslim yang belum sanggup kerjakan perjalanan haji, karena itu dia dikasih peluang untuk berkurban, yakni dengan menyembelih hewan qurban sebagai lambang ketakwaan dan kesayangan kita ke Allah SWT.

Bila kita melihat segi bersejarah dari perayaan Idul Adha ini, karena itu pemikiran kita akan terpikir cerita panutan Nabi Ibrahim, yakni saat Beliau diperintah oleh Allah SWT untuk tempatkan istrinya Bantai bersama Nabi Ismail putranya, yang waktu itu masih menyusu.

Mereka ditaruh di sebuah lembah yang tandus, gersang, tidak tumbuh sebatang pohon juga. Lembah itu begitu sunyi dan sepi tidak ada penghuni seorangpun.

Nabi Ibrahim sendiri tidak paham, apa tujuan sebetulnya dari wahyu Allah yang memerintah tempatkan istri dan putranya yang bayi itu, ditaruh pada sebuah tempat paling asing, di samping utara lebih kurang 1600 KM dari negaranya sendiri palestina. Tetapi baik Nabi Ibrahim, maupin istrinya Siti Bantai, terima perintah itu dengan tulus dan penuh tawakkal.

Baca Juga :   5 Kebohongan Dunia Paling besar Sepanjang Sejarah

Sama seperti yang dikisahkan oleh Ibnu Abbas jika ketika Siti Bantai kekurangan air minum sampai tidak biasa menyusui nabi Ismail, beliau cari air semakin kesini sekalian lari-lari kecil (Sa’i) di antara bukit Sofa dan Marwah sekitar 7 kali. Mendadak Allah mengutus malaikat jibril membuat mata air Zam Zam.

Siti Bantai dan Nabi Ismail mendapat sumber kehidupan. Lembah yang dahulunya gersang itu, memiliki stok air yang melimpah-limpah. Hadirlah manusia dari beragam penjuru khususnya beberapa pedagang ke arah tempat siti bantai dan nabi ismail, untuk beli air.

Tiba rezeki dari beragam pelosok, dan makmurlah tempat sekelilingnya. Pada akhirnya lembah itu sampai sekarang ini populer dengan kota mekkah, sebuah kota yang aman dan makmur, karena do’a Nabi Ibrahim dan karena kemahiran seorang ibu dalam mengurus kota dan warga.

Pengorbanan Nabi Ibrahim AS yang terbesar dalam riwayat umat umat manusia itu membuat Ibrahim jadi seorang Nabi dan Rasul yang besar, dan memiliki makna besar. Kejadian yang dirasakan Nabi Ibrahim bersama Nabi Ismail di atas, untuk kita harus diartikan sebagai pesan simbolis agama, yang memiliki kandungan evaluasi sekurang-kurangnya pada tiga hal;

Makna Idul Adha Pertama, ketakwaan.

Pemahaman taqwa berkaitan dengan ketaatan seorang hamba pada Si Khalik dalam jalankan perintah dan menjauhi dari larangan Nya. Koridor agama (Islam) mengepak kehidupan secara serasi seperti kehidupan dunia-akherat.

Jika mereaih kehidupan baik (hasanah) di akhierat nantinya perlu lewat kehidupan di dunia yang disebut kebun untuk perbanyak kebijakan dan meminta ridho Nya supaya terwujud kehidupan dunia dan akherat yang hasanah. Hingga kehidupan di dunia tidak terpisah dari usaha raih kehidupan hasanah di akherat kelak. Tingkat ketakwaan seorang dengan begitu bisa diukur dari perhatiannya pada sesamanya.

Baca Juga :   Canon EOS R7 & EOS R10 Resmi Hadir di Indonesia!

Contoh seorang wakil rakyat yang mempunyai tingkat ketakwaan yang tinggi pasti tidak manfaatkan kuasa yang dipunyai untuk membuat bertambah dirinya bahkan juga orang semacam ini akan berasa malu bila kehiudpannya lebih eksklusif daripada rakyat yang diwakilinya.

Kesiapsediaan Ibrahim untuk menyembelih anak kecintaannya atas perintah Allah mengisyaratkan tingginya tingkat ketakwaan Nabi Ibrahim, hingga tidak terperosok di kehidupan hedonis sebentar yang menyimpang. Lantas dengan kuasa Allah rupanya yang disembelih bukan Ismail tetapi domba. Kejadian ini juga menggambarkan Islam benar-benar menghargakan nyawa dan kehidupan manusia, Islam junjung tinggi peradaban manusia.

Makna Idul Adha Ke-2 , jalinan antara manusia.

Ibadah-ibadah umat Islam yang diperintah Tuhan selalu memiliki kandungan dua faktor tidak dipisahkan yaitu hubungannya dengan jalinan ke Allah (hablumminnalah) dan jalinan dengan setiap orang atau hablumminannas.

Tuntunan Islam benar-benar memperhatikan kebersamaan sosial dan melafalkanwantahkan sikap kesensitifan sosialnya lewat media ritus itu. Saat kita berpuasa pasti rasakan bagaimana sulitnya hidup seorang dhua’afa yang penuhi keperluan poangannya setiap hari saja susah.

Lantas dengan menyembelih hewan kurban dan membagikan ke golongan tidak berpunya itu sebagai salah satunya wujud kepedualian sosial seoarng muslim ke sesamanya yang tidak sanggup.

Kehidupan saling bantu-membantu dan bergotong-royong dalam kebaikan sebagai keunikan tuntunan Islam.

Makna yang bisa diambil dalam kerangka ini ialah seorang Muslim diingatkan untuk siap siaga berkurban untuk kebahagiaan seseorang terutamanya mereka yang kurang untung, siaga atas bujukan dunia supaya tidak terjatuh sikap tidak terpuji seperti keserakahan, mengutamakan diri kita, dan kelengahan dalam melaksanakan ibadah ke si Pembuat.

Makna Idul Adha Ke-3 , kenaikan kualitas diri.

Makna ke-3 dari ritus keagaamaan ini ialah memperkukuh empati, kesadaran diri, pengaturan dan pengendalian diri yang disebut cikal akan adab terpuji seorang Muslim. Adab terpuji diilustrasikan Nabi seperti menolong setiap orang dalam kebaikan, kebijakan, memuliakan tamu, mementingkani seseorang (altruism) dan selalu cepat dalam jalankan semua perintah agama dan menjauhi dari beberapa hal yang dilarang.

Baca Juga :   Penting LPDP ! 6 Fakta Beasiswa LPDP

Dalam Al Quran disebut jika Nabi Muhammad mempunyai adab yang agung (QS Al-Qalam: 4). Dalam Islam posisi adab penting sebagai “buah” dari pohon Islam berakarkan akidah dan berdaun syari”ah. Semua kegiatan manusia tidak lepas dari sikap yang melahirkan tindakan dan perilaku manusia. Kebalikannya, adab nista ditegaskan datang dari orang yang memiliki masalah dalam keimanan sebagai manisfestasi dari karakter-sifat syetan dan iblis.

Dari sejarahnya itu, karena itu lahirlah kota Makkah dan Ka’bah sebagai kiblat umat Islam penjuru dunia, sama air zam-zam yang tak pernah kering, semenjak beberapa ribu tahunan yang lalu, sekalinya setiap harinya dikuras berjuta liter, sebagai tonggak jasa seorang wanita yang paling sabar dan tegar yakni Siti Bantai dan putranya Nabi Ismail.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.